Organisasi Kurikulum
Organisasi Kurikulum
Sukmaida Nasution Dan Wulandari
Administrasi Pendidikan
Fakutas Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Abstract
Curriculum
organization is a solution that is delivered to students to be able to achieve
the goals of education or learning itself. Curriculum organization is very
decisive in developing education, because curriculum organization is closely
linked in determining learning objectives, determining learning material, and
determining how to deliver learning materials from a teacher to students.
Curriculum organization is also a tool for students to achieve success in
learning materials and learning materials. In curriculum organizations there
are various ways for the selection and selection of the curriculum itself and
has several procedures for curriculum selection and selection.
Keyword:
Curriculum Organitation, Education
Abstrak
Organisasi kurikulum merupakan sebuah kerangka atau
pola yang disampaikan kepada peserta didik untuk bisa mencapai tujuan
pendidikan atau pembelajaran itu sendiri. Organisasi kurikulum sangat berperan
dalam pengembangan pendidikan, karena organisasi kurikulum berhubungan erat
dalam menentukan tujuan pembelajaran, menentukan isi bahan pembelajaran, dan
menentukancara penyampian bahan pembelajaran dari seorang guru kepada peserta
didik. Organisasi kurikulum juga menjadi sebuah alat yang mempermudah siswa
untuk mencapai sukses dalam mempelajari dan memahami materi pembelajaran secara
efektif. Dalam organisasi kurikulum ada berbagai cara untuk pemilihan dan
penentuan isi kurikulum itu sendiri dan memiliki beberapa prosedur untuk
pemilihan dan penentuan isi kurikulum.
Kata Kunci: Orgnisasi Kurikulum, Pendidikan
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan suatu hal yang
sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dengan lembaga pendidikan. Kurikulum
ini digunakan sebagai bahan dalam proses pembelajaran baik mengenai isi maupun
acuan guru dalam mengajar. Dengan adanya kurikulum akan memudahkan guru dalam
mengajar siswa. Karena itu setiap sekolah/lembaga pendidikan harus memiliki
kurikulum yang jelas, baik dia kurikulum dari pemerintah maupun kurikulum dari
sekolah itu sendiri.
Jika suatu sekolah tidak memiliki
kurikulum yang jelas maka guru-guru akan kurang efektif dalam mengajar karena
tidak ada acuan/bahan yang jelas yang akan diajarkan, dan hal ini bisa saja
membuat siswa akan sulit untuk memahami isi dari mata pelajaran yang diajarkan
gurunya dan ketika naik kelas kejenjang yang lebih tinggi dapat mengakibatkan
pelajaran yang didapatkan siswa dikelas sebelumnya tidak sesuai karena guru
yang mengjarkan berbeda-beda.
Dalam pengelolaan kurikulum
dibutuhkan organisasi kurikulum yang dapat membantu untuk penyampaian dari isi
kurikulum yang telah ditetapkan. Dengan adanya organisasi kurikulum maka akan
tergambar bagaiamana seharusnya pola kurikulum yang baik dilaksanakan dalam
suatu lembaga pendidikan dengan mempertimbangkan minat, bakat dan kemampuan
siswa yang berada dalam sekolah. Oleh kerena itu, organisasi kurikulum sangat
dibutuhkan dalam penerapan kurikulum disuatu lembaga pendidikan.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum
merupakan kerangka pengajaran yang disampaikan kepada peserta didik untuk
mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran. Organisasi kurikulum berhubungan
erat dalam menentukan tujuan pembelajaran, menentukan isi bahan pembelajaran,
dan menentukan cara penyampian bahan pembelajaran dari seorang guru kepada
peserta didik.[1]
Organisasi kurikulum
bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta
mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Karena organisasi kurikulum
berkaitan dengan pengaturan bahan pelajaran.[2]
“Organisasi kurikulum adalah pola
atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan di ajarkan atau disampaikan
kepada murid atau suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin di
capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta
mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan
pembelajaran dicapai secara efektif. Organisasi kurikulum merupakan suatu dasar
yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertali erat dengan tujuan
program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut
menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikan kepada murid-murid”.[3]
B.
Pemilihan Dan
Penetuan Isi Kurikulum
Bahan atau materi kurikulum adalah
isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan
kurikulum.
1.
“Sumber-sumber materi kurikulum[4]
Isi atau materi kurikulum harus
bersumber pada tiga hal tersebut:
a.
Masyarakat sebagai sumber
kurikulum
Apa
yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam menetukan isi
kuirkulum. Kurikulum yang tidak memperhatikan kebutuhan masyrakat akan kurang
bermakna. Kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan
kurikulum meliputi masyarakat dalam lingkungan sekitar, masyarakat dalam
tatanan nasional dana masyarakat global.
Kebutuhan dalam tatanan masyarakat secara nasional, juga harus dijadikan
sumber penetapan materi kurikulum.
b.
Siswa sebagai sumber materi
kurikulum.
Ada
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum dikaitakan
dengan siswa, yakni:
1)
Kurikulum sebaiknya disesuaikan
dengan perkembangan anak
2)
Isi kurikulum sebaiknya mencakup
keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamanya
sekarang dan juga berguna untuk menghadapi kebutuhannya pada masa yang akan
datang
3)
Siswa hendaknya didorong untuk
belajar berkat kegiatannya sendiri dan tidak sekadar penerima secara pasif apa
yang diberikan guru
4)
Apa yang dipelajari siswa
hendaknya sesuai dengan minat dan keinginan siswa
c.
Ilmu pengetahuan sebagai sumber
kurikulum
Isi kurikulum dapat bersumber dari
ilmu pengetahuan. Para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun
bahan sendiri. Mereka tinggal memeilih materi mana yang perlu dikuasai oleh
anak didik berdasarkan disiplin ilmu sesuai dengan taraf perkembangan anak
didik serta sesuai kepentingannya.
2.
Tahap penyeleksian materi
kurikulum
Tahap penyeleksian materi
kurikulum adalah langka-langkah yang harus dilaksanakan oleh pengembangan
materi kurikulum dalam menentukan isi atau muatan kurikulum. Ada beberapa
tahap:
a.
Identifikasi kebutuhan
Ketidak sesuaian
antara harapan dan kenyataan. Maka dalam menentukan bahan atau materi kurikulum
harus dimulai dari penilian apakah bahan yang ada cukup memadai untuk mencapai
tujuan atau tidak. Disinilah para pengembang kurikulum dituntut berpikir kritis
untuk mengevaluasi dan menyeleksi bahan atau materi kurikulum yang sesuai
dengan kebutuhan.
b.
Mendapat bahan kurikulum
Mendapatkan
bahan kurikulum yang sesuai dengan tujuan bukanlah pekerjaan mudah. Proses
pelaksanaanya diperlukan perencanaan yang matang serta motivasi dan keseriusan
yang sungguh-sungguh. Dalam era teknologi informasi saat ini, untuk mendapatkan
bahan kurikulum baru dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan mengkaji
berbagai jurnal penelitian, menelaah sumber-sumber literatur yang baru, melacak
informasi melalui internet dan lain sebagainya.
c.
Analisis bahan
Analisis bahan
kurikulum diperlukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin
terjadi. Kesalahan menilai terhadap bahan kurikulum baik dilihat dari sudut
kelengkapan, maupun keakuratannya dapat
mengakibatkan rendahnya kualitas kurikulum. Menganilisis materi/bahan
kurikulum dapat dilakukan dengan melihat informasi tentang bahan yang
bersangkutan, dan analisis bahan bisa dilakukan dengan mencermati isi kurikulum
itu sendiri.
d.
Penilaian bahan kurikulum
Manakala bahan
kurikulum telah dianalisisi keakuratanya, maka selanjutnya diberikan penilaian,
apakah bahan itu layak digunakan atau tidak, sesuaikan dengan tuntutan
kurikulum atau tidak. Dalam menentukan keputusan tersebut perlu diuji scope
dan sequence-nya. Apakah tingkat kedalam serta urutan bahan sesuai
dengan tahap perkembangan siswa atau tidak apakah urutannya sesuai dengan
situasi dan kondisi sekolah atau tidak
e.
Membuat keputusan mengadopsi
bahan
Membuat
keputusan apakah bahan layak untuk diadopsi atau tidak, merupakan tahap
terakhir menyeleksi bahan. Tahap ini merupakan tahao yang penting dan biasnya cukup sulit dilakukan, oleh karena
adanya kemungkinanaperbedaan pendapat dari para pengembang materi kurikulum.
Para pengembangan kurikulum perlu bekerja secara hati-hati serta manjauhkan
diri dari kepentingan-kepentingan subjektif”.
“Pada umumnya dalam penentuan
kurikulum dapat berpegang pada asas-asas berikut:[5]
1.
Asas filosofis
Asas filosofis
berkenaan dengan system nilai. kurikulum
senantiasa sangat erat dengan filsafat pendidikan, karena filsafat menentukan
tujuan atau arah oleh sebuah pendidikan
yang hendak dicapai dengan alat yang disebut kurikulum.
2.
Asas psikologis
Asas psikologi berkenan dengan perilaku dengan
perilaku manusia, sehubungan dengan pengembangan kurikulum dan pengajaran,
perilaku manusia yang menjadi dasar yang berkenaan dengan psikologi belajar dan
psikologi anak.
3.
Asas sosiologi
Asas sosiologi
berkenaan dengan pencampaian kebudayaan, proses sosialisasi individu, dan
rekonstruksi masyarakat. Dalam membina kurikulum kita seringkali menemui
beberapa hampatan tentang bentuk-bentuk kebudayaan yang seharusnya disampaikan
serta kemana arah proses sosialisasi tersebut ingin direkontruksi sesuai
tuntutan masyarakat.
4.
Asas organisasi
Asas ini
berkenaan dengan bentuk penyajian bahan pelajaran, yakni organisasi kurikulum.
Organisasi ini meliputi:
a.
Kurikulum yang berisi sejumlah
mata pelajaran yang terpisah-pisah
b.
Kurikulum yang berisi sejumlah
mata pelajaran dihubung-hubungkan
c.
Kurikulum yang terdiri dari
peleburan sejumlah mata pelajaran sejenis”
Ada beberapa kriteria Dalam
mengembangkan isi kurikulum, yaitu:
a)
Isi kurikulum harus valid dan signifikan
b) Isi
kurikulum harus berpegang pada kenyataan-kenyataan social
c) Kedalam
dan kuluasan Isi kurikulum harus simbang
d) Isi
kurikulum menjangkau tujuan yang luas, meliputi pegetahuan, terampilan dan
sikap
e) Isi
kurikulum harus dapat dipelajari dan di sesuaikan dengan pengalaman siswa
f) Isi
kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat siswa
C. Bentuk-Bentuk
Organisasin Kurikulum
Berdasarkan mata pelajarannya (subject curriculum) organisasi kurikulum terdapat beberapa bentuk,
diantaranya:
1. Mata
pelajaran terpisah
Mata pelajaran terpisah merupakan
pembedaan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dengan
tujuan agar siswa lebih mehamaminya. Kurikulum ini cendrung kurang
memperhatikan aktivitas siswa akan tetapi lebih fokus pada penyampaian materi
sebagai bahan pelajaran yang akan diterima dan dihafal oleh siswa.
Bentuk kurikulum seperti ini memiliki kelebihan dan
kekurangan, yaitu:
“Kekurangan dan kelebihan dari separated subject curriculum yaitu:[6]
“Kekurangan dan kelebihan dari separated subject curriculum yaitu:[6]
a.
Kelebihan
1)
Bahan pelajaran dapat disajikan
secara logis dan sistematis
2)
Organisasi kurikulum ini
sederhana, mudah dilakasnakan dan direncanakan
3)
Kurikulum ini mudah dinilai
4)
Kurikulum ini juga dipakai di
pendidikan tinggi
5)
Kurikulum ini telah dipakai
berabad-abad lamanya dan sudah menjadi tradisi
6)
Kurikulum ini lebih memudahkan
guru dalam mendesain, mengelola dan membentuk bahkan mudah untuk diperluas dan
dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada
7)
Kurikulum ini mudah diubah dan
dikembangankan
8)
Dapat dilaksanaan untuk
mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu
b.
Kekurangan
1)
Bahan pelajaran diberikan atau
dipelajari secara terpisah-pisah, tidak menggambarkan adanya hubungan anatara
materi-materi satu dengan yag lainnya.
2)
Bahan pelajaran yang diberikan
atau yang dipelajari siswa tidak bersifat aktual.
3)
Proses belajar lebih mengutamakan
aktivitas guru, sedangkan siswa cederung pasif.
4)
Bahan pelajran merupakan
informasi maupun pengetahuan masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa
sekarang dan yang akan datang.
5)
Bahan pelajaran tidak berdasarkan
pada aspek permasalahan social yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.
6)
Proses dan bahan pelajaran sangat
kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.”
2. Mata
pelajaran terhubung
Mata pelajaran terhubung merupakan
pola kurikulum yang berkolerasi yaitu menghubungkan pembahasan satu mata
pelajaran dengan mata pelajaran lainnya sehingga dapat memperkaya wawasan
siswa. Bentuk kurikulum ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:
Kelebihan dari kurikulum mata
pelajaran terhubung
a.
Ada
keterhubungan antar materi pelajaran walau hanya beberapa mata pelajaran.
b. Memberikan
wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.
c.
Menambah minat
siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang terkolerasi.
Kekurangan dari kurikulum mata
pelajaran terhubung
a.
Bahan pelajaran
yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.
b. Kurikulum
ini kurang menggunakan bahan pelajaran
yang aktual dan langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.
c. Kurikulum
ini memerhatikan bakat, minat, dan kebutuhan
siswa.
d. Apabila
prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang
disampaikan bersifat abstrak.
3. Fusi
mata pelajaran
Fusi mata pelajaran
merupakan jenis organisasi yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan
menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan.
Dibawah ini beberapa
jenis disiplin ilmu yang disatukan dalam satu mata pelajaran, yaitu:
a.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
merupakan hasil peleburan Ilmu Fisika, Ilmu Hayat, Ilmu Kimia, dan Ilmu
Kesehatan.
b.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
hasi peleburan Ilmu Bumi, Sejarah, Civic, Hukum, Ekonomi, Geografi dan
Sejenisnya.
c.
Bahasa hasil peleburan pelajaran
membaca, Menulis, Mengarang, Menyimak dan Pengetahuan Bahasa.
d.
Matematika peleburan dari
Berhitung,Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Bidang, Ruang dan Ststistik.
e.
Kesenian adalah
hasil peleburan dari Seni Tari, Seni Suara, Seni Klasik, Seni Pahat dan Drama.
4. Kurikulum
Terpadu
Dalam kurikulum
terpadu guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengimplementasikan berbagai
strategi pembelajaran. Karena dalam kurikulum ini menuntut siswa untuk belajar
secara kelompok dan secara individu.
Bentuk kurikulum
ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:
“Kelebihan dari kurikulum terpadu
a.
Memberikan kesempatan pada siswa
untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimilikinya secara
individu.
b.
Memperaktikkan nilai-nilai
demokrasi dan pembelajaran.
c.
Memberikan kesempatan pada siswa
untuk belajar secara maksimal.
d.
Memberikan kepada siswa untuk
belajar berdasarkan pengalaman langsung.
e.
Dapat membantu meningkatkan
hubungan antar sekolah dengan masyarakat.
f.
Dapat menghilangkan batas-batas
yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain.
Kekurangan dari kurikulum terpadu
a.
Kurikulum dibuat oleh guru dan
siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam
pengembangan kurikulum seperti ini.
b.
Bahan pelajaran tidak disusun
secara logis dan sistematis.
c.
Bahan pelajaran tidak bersifat
sederhana.
d.
Dapat memungkinkan kemampuan yang
dicapai siswa akan berbeda.
e.
Kemungkinan akan memerlukan
biaya, waktu dan tenaga yang banyak”.[7]
Selain bentuk-bentuk diatas,
terdapat beberapa bentuk lainnya, yaitu:
1. Kurikulum
inti (Core Curriculum)
Kurikulum
inti marupakan bagian dari kurikulum integrasi atau kurikulum terpadu sehingga
program pembelajarannya harus dikembangkan secara bersama antar guru dengan
siswa. Kurikulum ini harus didukung oleh
kemampuan guru dalam mengelola waktu dan kegiatan sehingga aktivitas dan
substansi materi yang dipelajari agar efektif, efisien dan bermakna.
Terdapat beberapa karakteristik dalam kurikulum
inti, yaitu:
a.
Kurikulum ini direncanakan secara
berkelanjutan, selalu berkaitan, dan direncanakan secara terus-menerus.
b.
Isi kurikulum yang dikembangkan
merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan.
c.
Isi kurikulum selalu mengambil
atas dasar masalah ataupun problem yang dihadapi secara aktual.
d.
Isi kurikulum megambil atau
mengangkat substansi yang bersufat pribadi maupun sosial.
e.
Isi kurikulum ini fokus berlaku
untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum, tetapi
substansinya bersifat problem, pribadi, sosial dan pengalaman yang terpadu.
2. Social Functions
dan Persistent situations
Social functions
didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Kurikulum ini meruapakan bagian dari kurikulum terpadu.
Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakkan individu
sebagai anggota masyarakat, yaitu:
a.
Memelihara dan menjaga keamanan
masyarakat.
b.
Perlindungan dan pelestrian
hidup, kekayaan dan sumber alam.
c.
Komukasi dan transfortasi.
d.
Kegiatan rekreasi.
e.
Produksi dan distribusi berang
dan jasa.
f.
Ekspresi rasa keindahan.
g.
Kegiatan pendidikan.
h.
Integrasi kepribadian.
i.
Konsumsi benda dan jasa.
3. Experience
atau Aktivity Curriculum
Experience merupakan kurikulum yang cendrung
mengutamakan kegiatan atau pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan
yang terintegrasi dengan ligkungan maupun dengan potensi siswa.[8]
D. Prosedur
Organisasi Kurikulum
“Terdapat beberapa tahap dalam
organisasi kurikulum, yaitu:
1.
Membentuk tim pengembangan
kurikulum.
2.
Mengadakan penelitian dan
penilaian terhadap kurikulum yang ada dan sedang berlaku.
3.
Studi penjagaan tentang
kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
4.
Menentukan kriteria-kriteria bagi
penentuan kurikulum baru.
5.
Penyusunan dan penulisan
kurikulum baru”.[9]
“Menurut Hamalik dalam bukunya
Muhammad zaini terdapat beberapa prosedur tentang pengorganisasian kurikulum,
diantaranya:
1.
Prosedur pembelajaran
Dalam
memilih isi dari kurikulum harus berdasarkan materi yang terkandung di dalam
buku pelajaran yang telah ditentukan.
2.
Prosedur survey pendapat
Untuk
pemilihan dan pengoraganisasian isi kurikulum dilakukan dengan mengadakan
survey atau penelitian terhadap pendapat berbagai pihak.
3.
Prosedur studi kesalahan
Untuk
prosedur ini dilakukan dengan mengadakan analisis terhadap kesalahan,
kekeliruan, kelemahan atas hasil dari pengelaman sebelumnya.
4.
Prosedur mempelajari kurikulum
lainnya
Prosedur
ini dilakukan dengan cara mempelajari metode sekolah lain, dimana guru atau
sekolah dapat menetapakan atau menentukan isi kurikulum untuk sekolahnya sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai.
5.
Prosedur minat kebutuhan
Untuk
prosedur ini berdasarkan atas minat dan kebutuhan yang dipelukan oleh siswa
dalam suatu sekolah”.[10]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Organisasi kurikulum
adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan di ajarkan atau
disampaikan kepada murid atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau
pengalaman belajar ingin di capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam
mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan
belajar, sehingga tujuan pembelajaran dicapai secara efektif.
Di dalam pemilihan dan
penetuan isi kurikulum harus bersumber dari masyarakat kurikulum, siswa,dan
ilmu pengetahuan sebagai sumber kurikulum. Dan ada beberapa tahap penyeleksian
materi kurikulum yaitu: identifikasi kebutuhan, mandapat bahan kurikulum,
analisis bahan, penilaian bahan kurikulum, membuat keputusan mengadopsi bahan.
Di dalam organisasi kurikulum ada beberapa bentuk yaitu: mata pelajaran
terpisah, mata pelajar terhubung, fusi mata pelajaran dan kurikulum terpadu.
Dan organisasi kurikulum juga memiliki beberapa prosedur yaitu, prosedur
pembelajaran, prosedur survey pendapat, prosedur studi kesalahan, prosedur
mempelajari kurikulum lainnya, prosedur minat kebutuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Lismina, 2017. Pengembangan
Kurilukum, Ponorogo: Uwais Inspirasi
Indonesia
Sanjaya Wina, 2008. Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan
Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika, Jakarta:Kencana
Sudin Ali, 2014. Kurikulum Dan
Pembelajaran, Bandung: UPI PRESS
Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan
Pembelajaran, 2016. Kurikulum dan
Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Trianto ibnu badar at-taubany hadi
suseno, 2017. Desain
Pengembangan Kurikulum Cimangis:Kencana
[1] Lismina, Pengembangan Kurilukum, ( Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia,
2017), hlm.76
[2] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum
dan Pembelajaran, Kurikulum dan
Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), hlm.88
[3] Trianto ibnu badar at-taubany
hadi suseno, Desain Pengembangan Kurikulum (Cimangis:Kencana,2017),
hlm. 53
[4] Wina sanjaya, Kurikulum Dan
Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidika(Jakarta:Kencana, 2008), hlm.114-120
[5] Ali sudin, Kurikulum Dan
Pembelajaran, ( Bandung: UPI PRESS, 2014), hlm. 21-24
[6] Trianto ibnu badar at-taubany
hadi suseno, Op Cit., hlm.5
[7] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum
dan Pembelajaran, Op Cit., hlm.89-94
[8]Tim Pengembangan MKDP Kurikulum
dan Pembelajaran, ibid, hlm.94-99
[9] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum
dan Pembelajaran, Op Cit., hlm.87
[10]
Lismani, Op Cit., hlm.77-78
Komentar
Posting Komentar