Organisasi Kurikulum


Organisasi Kurikulum
Sukmaida Nasution Dan Wulandari
Administrasi Pendidikan
Fakutas Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
Sukmaidanasution88@gmail.com dan wdari2294@gmail.com
Abstract
Curriculum organization is a solution that is delivered to students to be able to achieve the goals of education or learning itself. Curriculum organization is very decisive in developing education, because curriculum organization is closely linked in determining learning objectives, determining learning material, and determining how to deliver learning materials from a teacher to students. Curriculum organization is also a tool for students to achieve success in learning materials and learning materials. In curriculum organizations there are various ways for the selection and selection of the curriculum itself and has several procedures for curriculum selection and selection.
Keyword: Curriculum Organitation, Education

Abstrak
Organisasi kurikulum merupakan sebuah kerangka atau pola yang disampaikan kepada peserta didik untuk bisa mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran itu sendiri. Organisasi kurikulum sangat berperan dalam pengembangan pendidikan, karena organisasi kurikulum berhubungan erat dalam menentukan tujuan pembelajaran, menentukan isi bahan pembelajaran, dan menentukancara penyampian bahan pembelajaran dari seorang guru kepada peserta didik. Organisasi kurikulum juga menjadi sebuah alat yang mempermudah siswa untuk mencapai sukses dalam mempelajari dan memahami materi pembelajaran secara efektif. Dalam organisasi kurikulum ada berbagai cara untuk pemilihan dan penentuan isi kurikulum itu sendiri dan memiliki beberapa prosedur untuk pemilihan dan penentuan isi kurikulum.
Kata Kunci: Orgnisasi Kurikulum, Pendidikan
PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan suatu hal yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dengan lembaga pendidikan. Kurikulum ini digunakan sebagai bahan dalam proses pembelajaran baik mengenai isi maupun acuan guru dalam mengajar. Dengan adanya kurikulum akan memudahkan guru dalam mengajar siswa. Karena itu setiap sekolah/lembaga pendidikan harus memiliki kurikulum yang jelas, baik dia kurikulum dari pemerintah maupun kurikulum dari sekolah itu sendiri.
Jika suatu sekolah tidak memiliki kurikulum yang jelas maka guru-guru akan kurang efektif dalam mengajar karena tidak ada acuan/bahan yang jelas yang akan diajarkan, dan hal ini bisa saja membuat siswa akan sulit untuk memahami isi dari mata pelajaran yang diajarkan gurunya dan ketika naik kelas kejenjang yang lebih tinggi dapat mengakibatkan pelajaran yang didapatkan siswa dikelas sebelumnya tidak sesuai karena guru yang mengjarkan berbeda-beda.
Dalam pengelolaan kurikulum dibutuhkan organisasi kurikulum yang dapat membantu untuk penyampaian dari isi kurikulum yang telah ditetapkan. Dengan adanya organisasi kurikulum maka akan tergambar bagaiamana seharusnya pola kurikulum yang baik dilaksanakan dalam suatu lembaga pendidikan dengan mempertimbangkan minat, bakat dan kemampuan siswa yang berada dalam sekolah. Oleh kerena itu, organisasi kurikulum sangat dibutuhkan dalam penerapan kurikulum disuatu lembaga pendidikan.
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Organisasi Kurikulum
Organisasi kurikulum merupakan kerangka pengajaran yang disampaikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan atau pembelajaran. Organisasi kurikulum berhubungan erat dalam menentukan tujuan pembelajaran, menentukan isi bahan pembelajaran, dan menentukan cara penyampian bahan pembelajaran dari seorang guru kepada peserta didik.[1]
Organisasi kurikulum bertujuan untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. Karena organisasi kurikulum berkaitan dengan pengaturan bahan pelajaran.[2]
“Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan di ajarkan atau disampaikan kepada murid atau suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin di capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dicapai secara efektif. Organisasi kurikulum merupakan suatu dasar yang penting sekali dalam pembinaan kurikulum dan bertali erat dengan tujuan program pendidikan yang hendak dicapai, karena bentuk kurikulum turut menentukan bahan pelajaran, urutannya dan cara menyajikan kepada murid-murid”.[3]

B.     Pemilihan Dan Penetuan Isi Kurikulum
Bahan atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
1.      “Sumber-sumber materi kurikulum[4]
Isi atau materi kurikulum harus bersumber pada tiga hal tersebut:
a.       Masyarakat sebagai sumber kurikulum
Apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan dalam menetukan isi kuirkulum. Kurikulum yang tidak memperhatikan kebutuhan masyrakat akan kurang bermakna. Kebutuhan masyarakat yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum meliputi masyarakat dalam lingkungan sekitar, masyarakat dalam tatanan nasional dana masyarakat global.  Kebutuhan dalam tatanan masyarakat secara nasional, juga harus dijadikan sumber penetapan materi kurikulum.
b.      Siswa sebagai sumber materi kurikulum.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum dikaitakan dengan siswa, yakni:
1)      Kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak
2)      Isi kurikulum sebaiknya mencakup keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamanya sekarang dan juga berguna untuk menghadapi kebutuhannya pada masa yang akan datang
3)      Siswa hendaknya didorong untuk belajar berkat kegiatannya sendiri dan tidak sekadar penerima secara pasif apa yang diberikan guru
4)      Apa yang dipelajari siswa hendaknya sesuai dengan minat dan keinginan siswa
c.       Ilmu pengetahuan sebagai sumber kurikulum
            Isi kurikulum dapat bersumber dari ilmu pengetahuan. Para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun bahan sendiri. Mereka tinggal memeilih materi mana yang perlu dikuasai oleh anak didik berdasarkan disiplin ilmu sesuai dengan taraf perkembangan anak didik serta sesuai kepentingannya.
2.      Tahap penyeleksian materi kurikulum
Tahap penyeleksian materi kurikulum adalah langka-langkah yang harus dilaksanakan oleh pengembangan materi kurikulum dalam menentukan isi atau muatan kurikulum. Ada beberapa tahap:
a.       Identifikasi kebutuhan
Ketidak sesuaian antara harapan dan kenyataan. Maka dalam menentukan bahan atau materi kurikulum harus dimulai dari penilian apakah bahan yang ada cukup memadai untuk mencapai tujuan atau tidak. Disinilah para pengembang kurikulum dituntut berpikir kritis untuk mengevaluasi dan menyeleksi bahan atau materi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan.
b.      Mendapat bahan kurikulum
Mendapatkan bahan kurikulum yang sesuai dengan tujuan bukanlah pekerjaan mudah. Proses pelaksanaanya diperlukan perencanaan yang matang serta motivasi dan keseriusan yang sungguh-sungguh. Dalam era teknologi informasi saat ini, untuk mendapatkan bahan kurikulum baru dapat dilakukan dengan mudah, misalnya dengan mengkaji berbagai jurnal penelitian, menelaah sumber-sumber literatur yang baru, melacak informasi melalui internet dan lain sebagainya.
c.       Analisis bahan
Analisis bahan kurikulum diperlukan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Kesalahan menilai terhadap bahan kurikulum baik dilihat dari sudut kelengkapan, maupun keakuratannya dapat  mengakibatkan rendahnya kualitas kurikulum. Menganilisis materi/bahan kurikulum dapat dilakukan dengan melihat informasi tentang bahan yang bersangkutan, dan analisis bahan bisa dilakukan dengan mencermati isi kurikulum itu sendiri.
d.      Penilaian bahan kurikulum
Manakala bahan kurikulum telah dianalisisi keakuratanya, maka selanjutnya diberikan penilaian, apakah bahan itu layak digunakan atau tidak, sesuaikan dengan tuntutan kurikulum atau tidak. Dalam menentukan keputusan tersebut perlu diuji scope dan sequence-nya. Apakah tingkat kedalam serta urutan bahan sesuai dengan tahap perkembangan siswa atau tidak apakah urutannya sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah atau tidak
e.       Membuat keputusan mengadopsi bahan
Membuat keputusan apakah bahan layak untuk diadopsi atau tidak, merupakan tahap terakhir menyeleksi bahan. Tahap ini merupakan tahao yang penting dan  biasnya cukup sulit dilakukan, oleh karena adanya kemungkinanaperbedaan pendapat dari para pengembang materi kurikulum. Para pengembangan kurikulum perlu bekerja secara hati-hati serta manjauhkan diri dari kepentingan-kepentingan subjektif”.
“Pada umumnya dalam penentuan kurikulum dapat berpegang pada asas-asas berikut:[5]
1.      Asas filosofis
Asas filosofis berkenaan dengan system nilai.  kurikulum senantiasa sangat erat dengan filsafat pendidikan, karena filsafat menentukan tujuan atau arah oleh sebuah pendidikan  yang hendak dicapai dengan alat yang disebut kurikulum.
2.      Asas psikologis
Asas  psikologi berkenan dengan perilaku dengan perilaku manusia, sehubungan dengan pengembangan kurikulum dan pengajaran, perilaku manusia yang menjadi dasar yang berkenaan dengan psikologi belajar dan psikologi anak.
3.      Asas sosiologi
Asas sosiologi berkenaan dengan pencampaian kebudayaan, proses sosialisasi individu, dan rekonstruksi masyarakat. Dalam membina kurikulum kita seringkali menemui beberapa hampatan tentang bentuk-bentuk kebudayaan yang seharusnya disampaikan serta kemana arah proses sosialisasi tersebut ingin direkontruksi sesuai tuntutan masyarakat.
4.      Asas organisasi
Asas ini berkenaan dengan bentuk penyajian bahan pelajaran, yakni organisasi kurikulum. Organisasi ini meliputi:
a.       Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran yang terpisah-pisah
b.      Kurikulum yang berisi sejumlah mata pelajaran dihubung-hubungkan
c.       Kurikulum yang terdiri dari peleburan sejumlah mata pelajaran sejenis”
Ada beberapa kriteria Dalam mengembangkan isi kurikulum, yaitu:
a)      Isi kurikulum  harus valid dan signifikan
b)      Isi kurikulum harus berpegang pada kenyataan-kenyataan social
c)      Kedalam dan kuluasan Isi kurikulum harus simbang
d)     Isi kurikulum menjangkau tujuan yang luas, meliputi pegetahuan, terampilan dan sikap
e)      Isi kurikulum harus dapat dipelajari dan di sesuaikan dengan pengalaman siswa
f)       Isi kurikulum harus dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat siswa

C.    Bentuk-Bentuk Organisasin Kurikulum
Berdasarkan mata pelajarannya (subject curriculum) organisasi kurikulum terdapat beberapa bentuk, diantaranya:
1.      Mata pelajaran terpisah
Mata pelajaran terpisah merupakan pembedaan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya dengan tujuan agar siswa lebih mehamaminya. Kurikulum ini cendrung kurang memperhatikan aktivitas siswa akan tetapi lebih fokus pada penyampaian materi sebagai bahan pelajaran yang akan diterima dan dihafal oleh siswa.
Bentuk kurikulum seperti ini memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:
“Kekurangan dan kelebihan dari separated subject curriculum yaitu:[6]
a.       Kelebihan
1)      Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis dan sistematis
2)      Organisasi kurikulum ini sederhana, mudah dilakasnakan dan direncanakan
3)      Kurikulum ini mudah dinilai
4)      Kurikulum ini juga dipakai di pendidikan tinggi
5)      Kurikulum ini telah dipakai berabad-abad lamanya dan sudah menjadi tradisi
6)      Kurikulum ini lebih memudahkan guru dalam mendesain, mengelola dan membentuk bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada
7)      Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangankan
8)      Dapat dilaksanaan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu
b.      Kekurangan
1)      Bahan pelajaran diberikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, tidak menggambarkan adanya hubungan anatara materi-materi satu dengan yag lainnya.
2)      Bahan pelajaran yang diberikan atau yang dipelajari siswa tidak bersifat aktual.
3)      Proses belajar lebih mengutamakan aktivitas guru, sedangkan siswa cederung pasif.
4)      Bahan pelajran merupakan informasi maupun pengetahuan masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan yang akan datang.
5)      Bahan pelajaran tidak berdasarkan pada aspek permasalahan social yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat.
6)      Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.”

2.      Mata pelajaran terhubung
Mata pelajaran terhubung merupakan pola kurikulum yang berkolerasi yaitu menghubungkan pembahasan satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya sehingga dapat memperkaya wawasan siswa. Bentuk kurikulum ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:
Kelebihan dari kurikulum mata pelajaran terhubung
a.       Ada keterhubungan antar materi pelajaran walau hanya beberapa mata pelajaran.
b.      Memberikan wawasan yang lebih luas dalam lingkup satu bidang studi.
c.       Menambah minat siswa untuk mempelajari mata pelajaran yang terkolerasi.
Kekurangan dari kurikulum mata pelajaran terhubung
a.       Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.
b.      Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran  yang aktual dan langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa.
c.       Kurikulum ini memerhatikan  bakat, minat, dan kebutuhan siswa.
d.      Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan bersifat abstrak.

3.      Fusi mata pelajaran
Fusi mata pelajaran merupakan jenis organisasi yang menghapuskan batas-batas mata pelajaran dan menyatukan mata pelajaran yang memiliki hubungan erat dalam satu kesatuan.
Dibawah ini beberapa jenis disiplin ilmu yang disatukan dalam satu mata pelajaran, yaitu:
a.       Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil peleburan Ilmu Fisika, Ilmu Hayat, Ilmu Kimia, dan Ilmu Kesehatan.
b.      Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hasi peleburan Ilmu Bumi, Sejarah, Civic, Hukum, Ekonomi, Geografi dan Sejenisnya.
c.       Bahasa hasil peleburan pelajaran membaca, Menulis, Mengarang, Menyimak dan Pengetahuan Bahasa.
d.      Matematika peleburan dari Berhitung,Aljabar, Ilmu Ukur Sudut, Bidang, Ruang dan Ststistik.
e.       Kesenian adalah hasil peleburan dari Seni Tari, Seni Suara, Seni Klasik, Seni Pahat dan Drama.

4.      Kurikulum Terpadu
Dalam kurikulum terpadu guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran. Karena dalam kurikulum ini menuntut siswa untuk belajar secara kelompok dan secara individu.
Bentuk kurikulum ini memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, yaitu:
“Kelebihan dari kurikulum terpadu
a.       Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimilikinya secara individu.
b.      Memperaktikkan nilai-nilai demokrasi dan pembelajaran.
c.       Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara maksimal.
d.      Memberikan kepada siswa untuk belajar berdasarkan pengalaman langsung.
e.       Dapat membantu meningkatkan hubungan antar sekolah dengan masyarakat.
f.       Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain.
Kekurangan dari kurikulum terpadu
a.       Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum seperti ini.
b.      Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistematis.
c.       Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana.
d.      Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda.
e.       Kemungkinan akan memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang banyak”.[7]
Selain bentuk-bentuk diatas, terdapat beberapa bentuk lainnya, yaitu:
1.      Kurikulum inti (Core Curriculum)
      Kurikulum inti marupakan bagian dari kurikulum integrasi atau kurikulum terpadu sehingga program pembelajarannya harus dikembangkan secara bersama antar guru dengan siswa. Kurikulum ini harus didukung oleh  kemampuan guru dalam mengelola waktu dan kegiatan sehingga aktivitas dan substansi materi yang dipelajari agar efektif, efisien dan bermakna.
Terdapat beberapa karakteristik dalam kurikulum inti, yaitu:
a.       Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan, selalu berkaitan, dan direncanakan secara terus-menerus.
b.      Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan.
c.       Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah ataupun problem yang dihadapi secara aktual.
d.      Isi kurikulum megambil atau mengangkat substansi yang bersufat pribadi maupun sosial.
e.       Isi kurikulum ini fokus berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum, tetapi substansinya bersifat problem, pribadi, sosial dan pengalaman yang terpadu.

2.      Social Functions dan Persistent situations
Social functions didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Kurikulum ini meruapakan bagian dari kurikulum terpadu.
Ada beberapa kegiatan yang dapat dilakkan individu sebagai anggota masyarakat, yaitu:
a.       Memelihara dan menjaga keamanan masyarakat.
b.      Perlindungan dan pelestrian hidup, kekayaan dan sumber alam.
c.       Komukasi dan transfortasi.
d.      Kegiatan rekreasi.
e.       Produksi dan distribusi berang dan jasa.
f.       Ekspresi rasa keindahan.
g.      Kegiatan pendidikan.
h.      Integrasi kepribadian.
i.        Konsumsi benda dan jasa.

3.      Experience atau Aktivity Curriculum
Experience merupakan kurikulum yang cendrung mengutamakan kegiatan atau pengalaman siswa dalam rangka membentuk kemampuan yang terintegrasi dengan ligkungan maupun dengan potensi siswa.[8]
D.    Prosedur Organisasi Kurikulum
“Terdapat beberapa tahap dalam organisasi kurikulum, yaitu:

1.      Membentuk tim pengembangan kurikulum.
2.      Mengadakan penelitian dan penilaian terhadap kurikulum yang ada dan sedang berlaku.
3.      Studi penjagaan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru.
4.      Menentukan kriteria-kriteria bagi penentuan kurikulum baru.
5.      Penyusunan dan penulisan kurikulum baru”.[9]
“Menurut Hamalik dalam bukunya Muhammad zaini terdapat beberapa prosedur tentang pengorganisasian kurikulum, diantaranya:
1.      Prosedur pembelajaran
Dalam memilih isi dari kurikulum harus berdasarkan materi yang terkandung di dalam buku pelajaran yang telah ditentukan.
2.      Prosedur survey pendapat
Untuk pemilihan dan pengoraganisasian isi kurikulum dilakukan dengan mengadakan survey atau penelitian terhadap pendapat berbagai pihak.
3.      Prosedur studi kesalahan
Untuk prosedur ini dilakukan dengan mengadakan analisis terhadap kesalahan, kekeliruan, kelemahan atas hasil dari pengelaman sebelumnya.
4.      Prosedur mempelajari kurikulum lainnya
Prosedur ini dilakukan dengan cara mempelajari metode sekolah lain, dimana guru atau sekolah dapat menetapakan atau menentukan isi kurikulum untuk sekolahnya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
5.      Prosedur minat kebutuhan
Untuk prosedur ini berdasarkan atas minat dan kebutuhan yang dipelukan oleh siswa dalam suatu sekolah”.[10]

                                                          


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Organisasi kurikulum adalah pola atau bentuk penyusunan bahan pelajaran yang akan di ajarkan atau disampaikan kepada murid atau merupakan suatu cara menyusun bahan atau pengalaman belajar ingin di capai dengan tujuan mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dicapai secara efektif.
Di dalam pemilihan dan penetuan isi kurikulum harus bersumber dari masyarakat kurikulum, siswa,dan ilmu pengetahuan sebagai sumber kurikulum. Dan ada beberapa tahap penyeleksian materi kurikulum yaitu: identifikasi kebutuhan, mandapat bahan kurikulum, analisis bahan, penilaian bahan kurikulum, membuat keputusan mengadopsi bahan. Di dalam organisasi kurikulum ada beberapa bentuk yaitu: mata pelajaran terpisah, mata pelajar terhubung, fusi mata pelajaran dan kurikulum terpadu. Dan organisasi kurikulum juga memiliki beberapa prosedur yaitu, prosedur pembelajaran, prosedur survey pendapat, prosedur studi kesalahan, prosedur mempelajari kurikulum lainnya, prosedur minat kebutuhan.











DAFTAR PUSTAKA

Lismina, 2017. Pengembangan Kurilukum,  Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia

Sanjaya Wina, 2008.  Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika, Jakarta:Kencana

Sudin Ali, 2014. Kurikulum Dan Pembelajaran, Bandung: UPI PRESS

Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, 2016. Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Trianto ibnu badar at-taubany hadi suseno, 2017. Desain Pengembangan Kurikulum Cimangis:Kencana




[1] Lismina, Pengembangan Kurilukum, ( Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia, 2017), hlm.76
[2] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Kurikulum dan Pembelajaran, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016), hlm.88
[3] Trianto ibnu badar at-taubany hadi suseno, Desain Pengembangan Kurikulum (Cimangis:Kencana,2017), hlm. 53
[4] Wina sanjaya, Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidika(Jakarta:Kencana, 2008), hlm.114-120
[5] Ali sudin, Kurikulum Dan Pembelajaran, ( Bandung: UPI PRESS, 2014), hlm. 21-24
[6] Trianto ibnu badar at-taubany hadi suseno, Op Cit., hlm.5
[7] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Op Cit., hlm.89-94
[8]Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, ibid, hlm.94-99
[9] Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran, Op Cit., hlm.87
[10]  Lismani, Op Cit., hlm.77-78

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISA PENGARUH KOMPETENSI MANAJER PROYEK TERHADAP KETEPATAN BIAYA, MUTU DAN WAKTU

JUDUL : Mahasiswa KKN-DR PLUS UIN SUSKA RIAU melakukan penyemprotan disenfektan di semua masjid nagari parit malintang