PENGENDALIAN JADWAL PROYEK


PENGENDALIAN JADWAL PROYEK
(Kajian Pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam)
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Terstruktur Pada Mata Kuliah Manajemen Proyek Pendidikan semester V





KELOMPOK 3
FILDA SANDORA                          : 11713202689
NASIB SAMSURI LUBIS               : 11713100731
OKTANI NODELVA PUTRI        : 11710324150           
WULANDARI                                  : 11713200679

DOSEN PENGAMPU
Karno Aryianto, M.Pd.I

ADMINISTRASI PENDIDIKAN
MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
PEKANBARU
1440H/2019 M

KATA PENGANTAR
Assalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.
Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Manajemen Proyek”.
Dalam penyusunannya, kami memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua dan segenap keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semogasemua ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun kami berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata, kami berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamualaikumwarahmatullahiwabarakatuh.

                                                                                                       Pekanbaru, 2 November 2019


Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang....................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................... 1
C.     Tujuan Masalah....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Dasar Penyusunan Jadwal untuk Pengendalian..................................................... 2
B.     Konsep Cadangan Waktu....................................................................................... 4
C.     Waktu Kumulatif Jalaur......................................................................................... 8
D.    Memantau Dan Mengendalikan Jadwal Penggunaan Cadangan Waktu............... 11
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan............................................................................................................ 13
B.     Saran...................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 14



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manajemen proyek merupakan tata cara mengorganisir dan mengelola sumber penghasilan yang penting untuk menyelesaikan proyek dari akhir sampai selesainya proyek itu. Manajemen proyek bisa diterapkan pada semua  proyek apapun, dan dipakai secara umum dan luas agar bisa menyelesaiakn proyek yang besar atau kompleks. Tujuan manajemen proyek paling utama  adalah pencapaian semua tujuan dari akhir proyek dengan segala kekurangan yang ada, waktu, dan dana yang tersedia. Waktu atau jadwal merupakan sasaran utama proyek. Keterlambatan akan berdampak buruk untuk proyek dan akan berdampa kerugian bagi proyek itu. Pengelolaan waktu mencakup pengendalian jadwal yaitu dasar penyusunan jadwal untuk pengendalian, konsep cadangan waktu, waktu kumulatif jalur, memantau dengan mengendalikan jadwal penggunaan cadangan waktu.
Dalam proses pengendalian terdapat berbagai cara untuk menyusun atau membuat jadwal yang nantinya akan dipakai sebagai tolak ukur pengendalian jadwal. Dan dalam cadangan waktu dapat dilihat  suatu rangkaian kegiatan yang memperoleh salah satu metode pengolahan proyeknya efektif untuk merancangkan dan mengendalikan jadwal. Pengendalian proyek dilaksanakan seiring dengan pelaksanaan proyek, pengendalian dilakukan supaya proyek tetap berjalan dalam batas waktu, biaya, dan kegiatan yang telah ditentukan dalam perencanaan.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa saja dasar  penyusunan jadwal untuk pengendalian?
2.      Bagaimana  konsep cadangan waktu ?
3.      Bagaimana dengan waktu kumulatif jalur?
4.      Bagaimana memantau dan mengendalikan jadwal penggunaan cadangan waktu?
C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui dasar  penyusunan jadwal untuk pengendalian.
2.      Untuk mengetahui konsep cadangan waktu.
3.      Untuk mengetahui waktu kumulatif jalur.
4.      Untuk mengetahui memantau dan mengendalikan jadwal penggunaan cadangan waktu.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dasar Penyusunan Jadwal untuk Pengendalian
Jadwal proyek adalah alat yang bisa menunjukkan kapan berlangsungnya sebuah aktivitas, maka bisa dipakai untuk mengendalikan pelaksanaan kegiatan proyek secara menyeluruh. Dalam penelitian, penjadwalan merupakan pembagian waktu yang tersedia untuk melaksanakan masing-masing pekerjaan dalam rangka menyelesaikan suatu proyek hingga tercapai hasil optimal dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan yang ada. Penjadwalan proyek merupakan suatu element penting, Karena penjadwalan memberikan informasi mengenai kemajuan suatu proyek dalam hal kinerja sumber daya berupa biaya.[1] Penjadwalan sering terlambat dikarenakan karena pengelola proyek kurang memahami jadwal proyek dan kurangnya komunikasi antara pengelola dengan pekerja dilapangan. Seharusnya harus ada pengendalian jadwal agar tidak terjadi keterlambatan dalam penyelesai proyek.
Dalam proses pengendalian jadwal terdapat berbagai cara untuk menyusun atau membuat jadwal proyek yang nantinya akan dipakai sebagai tolak ukurnya. Adapun cara untuk menyusunnya, antara lain:[2]
1.      Tanggal akhir ditetapkan oleh manajer puncak
Pimpinan perusahaan atau kepala eksekutif bisa menetapkan tanggal akhir proyek. Tanggal akhir yang telah ditetapkan adalah batas akhir dari kegiatan proyek yang dijalankan harus selesai pada waktu yang ditetapkan.
2.      Tanggal akhir ditetapkan oleh pasar
Situasi ini bisa terjadi pada kasus ketika proyek akan memproduksi sebuah produk yang mungkin bersifat musiman. Maka sebuah proyek mengharuskan dalam menyelesaikan pekerjaannya, harus sesuai dengan tanggal yang ditetapkan oleh pasar untuk kebutuhan para konsumen.
3.      Jadwal ditetapkan oleh klien
Sebagian besar proyek mempunyai tanggal akhir yang ketat. Para kontraktor harus menerima sebuah jadwal yang ketat sebagai dasar mereka agar dapat memenuhi target yang telah ditetapkan. Adanya jadwal yang ketat ini, mewajibkan proyek selesai pada waktu yang telah ditetapkan, jika tidak selesai sesuai jadwal yang telah disepakati, maka kontraktor akan kehilangan pekerjaannya.
4.      Memakai jaringan kerja didasarkan atas logika ketergantungan pekerjaan dan sumber daya.
Jaringan kerja merupakan langkah penyempurnaan yang berguna untuk menyusun urutan kegiatan proyek yang memiliki komponen besar. Untuk membuat jaringan kerja ini, didasarkan atas logika ketergantungan pekerjaan yang disebabkan oleh kegiatan proyek itu sendiri dan ketergantungan terhadap sumber daya yang diakibatkan oleh terbatasnya dana atau sumber daya.
5.      Pertimbangan untuk persyaratan khusus
Pertimbangan dilakukan karena tentunya untuk memperkirakan kondisi alam disekitar proyek, yang akan mempengaruhi pelaksanaan proyek. Hal yang harus dipertimbangan khususnya adalah cuaca. contohnya, pondasi harus selesai sebelum musim dingin dan gedung harus dipasangi atap sebelum musim hujan.
6.      Memakai kalkulasi biaya sebagai dasar
Kalkulasi biaya dapat membantu mengembangkan keperluan dan lamanya tenaga kerja. Kalkulasi biaya dan jadwal harus diperbaharui bersamaan yang akan memastikan bahwa semua unsur dalam sumber daya dievaluasi, cuaca dipertimbangkan, dan eskalasi dihitung. Kalkulasi akan memaparkan rincian kegiatan dan jam anggota kerja.
7.      Persyaratan kontraktual
Persyaratan kontraktual ini merupakan perjanjian untuk sebuah proyek yang akan dikerjakan. Artinya dengan ada kontrak ini dalam sebuah proyek tidak ada lagi alasan proyek itu tidak selesai sesuai waktu yang telah disepakati, karena sebelum melaksanakan sebuah proyek harus mempunyai syarat yaitu persyaratan kontraktual,adalah:
a.       Pemberian kontrak
b.      Menetapkan tanggal dimana keseluruhan dan rincian skedul harus diserahkan.
c.       Menetapkan batas-batas waktu untuk persetujuan tertentu.
d.      Menetapkan tanggal pembelian dan pengiriman untuk peralatan dan borongan tertentu.
e.       Menetapkan tanggal untuk menyelesaikan pekerjaan atau menghindari pekerjaan atau pada waktu periode tertentu.
B.     Konsep Cadangan Waktu
Pada dasarnya cadangan waktu dapat dipandang  suatu proses kegiatan. konsep cadangan waktu memiliki cakupan yang lebih luas, dengan prosedur analisis yang sistematis sehingga bila dapat menggunakannya dengan baik akan merupakan/memperoleh salah satu metode pengolahan proyeknya efektif untuk merancang kan dan mengendalikan jadwal.[3]
1.      Formulasi dasar
Denis H. Busch mendefinisi cadangan,  bahwa cadangan waktu adalah kurun waktu proyek yang belum diperuntukkan bagi kegiatan tertentu sehingga dapat dipakai untuk memecahkan masalah proyek dalam aspek jadwal. Pada Konsep cadangan waktu dapat dijelaskan sebagai perbandingan antara waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek terhadap waktu yang tersedia.
CW = WT-WKJ
 
Dimana:
CW=  cadangan waktu jalur                                                                                    
WT=  waktu yang tersedia
WKJ=  waktu kumulatif jalur.
Dalam konteks yang spesifik, CW adalah cadangan waktu pada jalur tertentu dari urutan kegiatan proyek. Adapun WKJ adalah jumlah kumulatif kurun waktu untuk menyelesaikan nude-nude pada jalur tersebut. Angka CW  bisa negatif, positif atau pun nol. Positif merupakan waktu yang tersedia lebih besar dari waktu yang diperlukan guna menyelesaikan proyek. Nol Berarti waktu yang  sama besar dengan yang diperlukan. Namun angka CW negatif, diketahui tidak cukup waktu untuk mengakhiri proyek sesuai jadwal. Oleh karena itu, bila pada saat laporan dijumpai angka CW negatif, hal ini akan menyodorkan peringatan bahwa ada indikasi pada jadwal, bila tidak dilakukan perubahan kearah perbaikan maka di belakang hari betul-betul akan terjadi keterlambatan. Konsernya dengan waktu disajikan dan dianalisis dengan bunda kan jaringan ke  kerja PDM,  berikut ada kaidah dasar yang bersangkutan.
2.      waktu tersedia
Hubungan aljabar antara CW, WT dan WKJ.  Terlihat bahwa untuk memperbesar cadangan waktu jalur, perlu memperbesar selisih terhadap waktu kumulatif pada jalur. Misalnya memperpanjang WT atau mempersingkat WKJ atau kedua-duanya. Untuk masuk tersebut diteliti lebih jauh apa saja yang dapat diklasifikasikan sebagai waktu sedia dan waktu kumulatif jalur pada proyek,  dan bagaimana cara menghitung dan memperoleh nya. Besar WT suatu jalur diperoleh dari selisih ES node awal atau mulai terhadap eleven ade akhir atau selesai. Dinyatakan dalam tanggal menjadi:
WT = LF(ns) – ES(nm) + 1
 
Di mana:
LF (ns) =  tanggal  terakhir pada jalur yang bersangkutan
ES(nm) =  tangga mulai  pertama pada jalur bersangkutan.
Seringkali  ES(nm)  maupun LF(ns)  diberi batasan batasan berupa waktu atau tanggal.
1
12 juni
(133)

A
35
23 Juli
(169)
15 Juni
(135)

25 Juni (169)
2
24 Juli
(168)
B
45
16 Sept
(214)
27 Juli (170)

18 Sept
(214)





 


3
17 Sept
(215)
C
47
10 Nov
(259)
19 Sept
(215)

12 Nov
(261)

Yang dicantumkan pada node nude yang bersangkutan. Misalnya, Tm = 12  Juni, yang berarti tanggal mulai tidak boleh lebih awal dari tanggal 12 juni, dan td= 8 November, berarti tanggal selesai tidak boleh lewat tanggal 8 November. Dengan demikian, Tm dan Td  tersebutlah dengan menentukan angka-angka untuk E S(nm) dan LF(ns).
Contoh perhitungan waktu yang tersedia
Dengan memakai rumus tersebut, maka waktu yang tersedia untuk menyesuaikan proyek (WT) adalah 261- 133 + 1 = 129 hari,  yaitu jumlah hari kerja dari 12 juni (ES node dimulai sampai 12 November (LF  node selesai).
            Menambah jumlah waktu tersedia
Jumlah 129 hari waktu tersedia pada contoh di atas adalah hari kerja antara 12 November dengan 12 juni. Jadi, bukan termasuk hari minggu dan hari libur. Jumlah hari minggu dan hari libur relatif cukup banyak setiap tahunnya, apalagi bila memakai peraturan 5 hari kerja per minggu. Sebagai contoh, untuk tahun 1992 dengan 5 hari dan 6 hari kerja per minggu,:
            Hari minggu dan libur 1992 sebagai WT
1)      6 hari kerja per minggu
Hari Minggu                                                          :           52
Hari besar ( yang jatuh diluar hari minggu            :           12
 

Total                                                                      :           64
Total % WT Tahun 1992 = (64/365)(100%) = 17,5 %



2)      5 hari kerja per minggu
Hari minggu                                                                                  :           52
Hari sabtu                                                                                      :           52
Hari besar ( yang diluar hari minggu dan sabtu )                          :           10
Total                                                                                              :           114
Total % WT Tahun 1992 = (114/365)(100%) =32,1 %.
Pada konsep cadangan waktu, hari-hari dewa hari kerja melupakan sumber waktu tersedia (WT)  untuk 6 hari kerja sebesar ( 64/365 ) (100%)= 17.5 % dan untuk 5 hari masa kerja (114/365) (100%) = 32.1 %. Seandainya diperlukan untuk hal-hal yang mendesak, masih tersedia wta lain dalam jumlah yang besar, berarti sebagai kerja yang lemburnya yang pada hari yang sama, dari analisis diatas,  terlihat bahwa secara teori, WT bisa diperbesar atau diperpanjang dengan cara berikut:
a)      Memulai kegiatan proyek lebih awal.
b)      Menambah hari kerja dengan  hari libur, minggu dan kerja lembur.
 Memulai kegiatan proyek lebih awal dari segi jadual merupakan langkah langkah yang ideal,  tetapi seringkali terhalang oleh faktor faktor teknis dan nonteknis, seperti menunggu akan adanya kontrak resmi, sumber pendanaan yang bagus, dan lain-lain. Oleh karena itu keputusan untuk menggunakan tidaknya cadangan waktu dalam bentuk hari sabtu, minggu, tidak masuk kerja, dan lembur akan tergantung pada perkembangan ekonomi.
C.    Waktu Kumulatif Jalur-Wkj
Untuk memeperbesar cadangan waktu suatu proyek adalah dengan mengusahakan untuk memperkecil atau mempersingkat waktu kumulatif jalur (WKJ) proyek tersebut. Dengan asumsi lingkup kegiatan proyek tidak berubah, maka untuk maksud tersesbut terbuka berbagai kemungkinan, yaitu:
         

            Tabel 2.3  kegiatan dengan konstrain SS dan FF     
a.       Mempercepat selesainya kegiatan dengan menambahkan sumber daya, misalnya tenaga kerja, peralatan, dan lain-lain
b.      Meneliti kembali urutan kegiatan, kemungkinan adanya kegiatan, atau bagian kegiatan yang dapat dilaksanakan sejajar atau tumpang tindih.
butir a berarti menukar jadwal dengan biaya atau “membeli” jadwal.
butir b, yaitu meneliti dan mengatur kembali urutan kegiatan agar diperoleh WKJ yang terpendek, ini merupakan pilihan yang terbaik.[4]
Seharusnya jadwal yag dihasilkan dari perencanaan dasar sudah merupakan perencanaan yang memiliki WKJ yang terpendek, telah diketahui  pada awal sewaktu membuat perencanaan dasar proyek, masih  terbatas data informasi yang tersedia, sehingga WKJ yang tersusun masih banyak memiliki peluang untuk penyempurnaan. Agar pada butir b memberikan hasil yang diinginkan, maka perlu dianalisis secara terperinci sifat-sifat mode dan hubungan di antara yang menentukan besarnya WKJ adalah
a)      Kurun waktu masing-masing node pada jalur
b)      Konstrain (SS,SF,FS, dan FF) yang menghubungkan node-node pada jalur yang bersangkutan
Untuk menghitung total panjang/kurun waktu jalur, digunakan metode CPM/PDM dengan hitungan maju dan mundur. Yaitu, menjumlahkan angka numerik masing-masing kurun waktu node dan memperhatikan jalur yang bergabung maupun berpencar. Demikian pula harus diperhatikan konstrain yang menghubungkan, misalnya untuk konstrain lag diperhitungkan sama halnya dengan node. Tabel 29-2 menjelaskan keterangan di atas. Misalnya, 3 kegiatan dengan masing-masing mempunyai kurun waktu A=6, B=9, dan C=5 MEMILIKI KONSTRAIN ss(1-2)=3 dan FF(2-3)=4


WKJ untuk contoh Tabel 2.3 adalah
WKJ    =A       SS(1-2)            B         FF(2-3)            C
        = 0  +   3                             +9     + 4         +0
        =16
1.      Cadangan waktu node dan jalur
Untuk  menghitung CW jalur, terlebih dahulu ditinjau cadangan waktu node CW.  Kemudian  , dianalisa bagaimana hubungan CW node-node yang menjadi komponen jalur tersebut CW jalur proyek secara keseluruhan.
     CW-m=LS-ES
Batasan cadangan waktu node dinyatakn dengan rumus ,

     CW-s=LF-EF
Cadangan waktu node selesai

Angka CW-m  atau CW-s dapat dan negative. Positif berarti bahwa node yang bersangkun memiliki waktu tersedia lebih besar dari yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatn, dan negative berarti bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Untuk menghitung cadangan waktu node, urutannya adalah :
a.     Dari kelender kerja diambil angka-angka numeric parameter  ES,LS,EF dan LF dari node
b.     Hitung CW-m dan CW-s dengan rumusa tadi
Contoh berikut ini akan menjleaskan hal tersebut:
1

11 maret (58)         13 maret (60)
A
38
25 april (95)         28 april (97)




CW-m=2

CW-s=2






                   Table: 2.4 cadangan waktu node  mulai dan node selesai

Table: 2.4 cadangan waktu node mulai dan node selesai

 
Kegiatan A memerlukan waktu 38 hari kerja untuk menyelesaikannya. Dimulai (ES) pada tanggal 11 maret. Dari kelender kerja table 29,4 hari ini merupakan hari kerja ke-58 dan selesai pada pada hari kerja ke-95, atau jatuh pada tanggal 25 april. Demikian juga dari pembacaan kelender kerja, diperoleh angka 15 pada hari ke-60 dan LF hari ke-97 -95=2
2.      Cadangan Waktu Jalur
       Sekarang ditinjau pengaruh cadangan waktu node terhadap cadangan waktu pada jalur. Di umpamakan proyek terdiri dari 3 kegiatan A,B, dan C, dengan kurun waktu kegiatan berturut-turut adalah 35, 25, dan 20 hari. Sedangkan ES=12  juni , maka akan selesai pada tanggal 23 juli. Selanjutnyam kegiatan B dimulai tanggal 24 juli dan selesai tanggal 22 agustus. Sedangkan C di mulai 24 agustus selesai 16 september ( 23 agustus hari minggu). Terlihat dari table 2.3 cadangan waktu masing-masing kegiatan /node adalah +4 hari. Di tinjau dari keseluruhannya proyek, maka total waktu yang diperlakukan untuk menyelesaikannya adalah 35+25+20=80 hari, sedangkan waktu yang tersedia adalah 216-133+= 84 hari (12jini-21 september). Jadi proyek tersebut mempunyai cadangan waktu sebesar 84-80 =4 hari.
       Misalkan sekarang penyelesaian kegiatan B telambat 3 hari, maka kurun waktu kegiatan B menjadi 25+3 28 hari, dengan demikian waktu yang di perlukan untuk menyelesaikan proyek adalah 35+28+20= 83 hari, sedangkan waktu yang tersedia tetap, yaitu 216-133+1= 84 hari. Maka CWJ proyek berkurang menjadi 84-83= 1. Meskipun hanya satu node yang terlambat, tetapi mengakibatkan keterlambatan secara menyeluruh pada jalur yang bersangkutan. Dengan kata, cadangan waktu yang dihitung dengan cara di atas, bukan hanya milik kegiatan/node komponen jalur, tetapi merupakan cadangan waktu jalur yang bersangkutan di mana dia berasa[5].
3.       Jalur Kritis
Jalur kritis adalah jalur yang terdiri dari kegiatan kritis. Jika dilihat dari prosedur menghitung umur proyek, jalur kritis bisa juga diartikan sebagai jalur yang memiliki waktu terpanjang dari semua jalur yang dinilai dari peristiwa awal hingga peristiwa akhir[6]. Jika jalur kritis mengalami keterlambatan penyelesaian maka akan memperlembat secara keseluruhan, meskipun yang lain tidak mengalami keterlambatan.Jalur kritis memiliki pengertian ES = LS baik peristiwa awal maupun peristiwa akhir dari kegiatan. Berdasarkan perhitungan Earliest Start (ES) dan Latest Start (LS) diatas maka dapat dihitung Float (Slack) dari masing-masing kegiatan untuk menentukan jalur kritisnya. Jadi nilai float atau waktu longgar harus sama dengan 0 (nol). Dilihat dari segi cadangan waktu, maka jalur kritis adalah jalur yang mempunyai total cadangan waktu terkecil atau jalur terpanjangn dalam proyek relative terhadap waktu yang tersedia WT.
D.    Memantau dan Mengendalikan Jadwal Penggunaan CW
Cw adalah suatu konsep terarah untuk pengelolaan kurun waktu yang tak terpakai bagi kegiatan tertentu, agar dapat di pakai untuk memecahkan masalah proyek yang terjadi di luar rencana dalam aspek jadwal. Dari segi konsep, cadangan waktu diinginkan agar pada waktu menentukan jadwal komponen kegiatan telah dipertibangkan atau dialokasikan jangka waktu sedemikian rupa agar beseran CW positif, bukan 0 apalagi negative. Sekali lagi diingatkan bahwa dengan memperkirakan biaya proyek, selalu ada kontinjensi untuk menutup hal-hal yang belum diketahui dengan jelas pada waktu menyusun perkiraan biaya karena terbatasnya informasi. Bila diambil jalan pemikiran yang parallel, untuk perkiraan biaya bagi proyek E-MK yang kompleksitasnya sedang dan memakan waktu sekitar 3,5 tahun. Maka kontijensi biaya umumnya sekitar 12-13 persen. Dengan demikian alokasi cadangan waktu tidak jauh dari angka tersebut, yaitu 12,5 persen X 40 = 50 bulan.
Memantau Kecepatan Erosi CW
Sebagai indicator apakah laju proyek sesuai peranan jadwal, maka dapat dilihat
1

2

3

4

5
D=20
T= 25
20
25

D= 40
T = 50
60
75
D = 50
T= 135
110
135
D= 30
140
170
D=10
150
180















Dari kecepatan erosi cadangan waktu. Yang dimaksud dengan erosi cadangan waktu adalah kecepatan berkurangnya CW pada kurun waktu tertentu. Bila kecepatan erosi demikian cepat melebihi laju peneyelesaian pekerjaan yang direncanakan, pertanda harus diambil tindakan untuk menjaga jangan sampai sasaran jadwal menjadi tidak tercapai. Rumus mencari CW
CW = WT-WKJ

 


Dimana: CW = Cadangan Waktu Jalur
   WT = Waktu yang Tersedia
  WKJ= Waktu Kumulatif Jalur
Jika hasil yang diperoleh:
CW Positif : waktu tersedia > waktu yang diperlukan untuk penyelesaian proyek.
CW Nol : waktu tersedia = waktu yang diperlukan untuk penyelesaian proyek.
CW  Negatif : waktu tersedia < waktu yang diperlukan untuk penyelesaian proyek.



















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keberhasilan dalam setiap kegiatan perusahaan atau organisasi atau individu dalam melaksanakan suatu proyek sangat diperlukan pengendalian jadwal dan cadangan waktu yang secara optimal dari seluruh sumber daya yang terdapat didalamnya. Dalam pengendalian jadwal, ada beberapa hal yang harus di perhatikan dalam menyusun pengendalian jadwal yaitu:tanggal akhir ditetapkan oleh manajer puncak, tanggal akhir ditetapkan oleh pasar, jadwal ditetapkan oleh klien, persyaratan kontraktual, pertimbangan untuk persyaratan khusus, memakai kalkulasi biaya sebagai dasar,memakai jaringan kerja didasarkan atas logika ketergantungan pekerjaan dan sumber daya.
 Untuk bisa mengendalikan jadwal  harus memahami cadangan waktu, agara proyek bisa selesai sesuai dengan waktu yang telah di sepakati dalam kontrak kerja. CW adalah cadangan waktu pada jalur tertentu dari urutan kegiatan proyek. Adapun WKJ merupakan jumlah kumulatif kurun waktu untuk menyelesaikan nude-nude pada jalur tersebut. Angka CW dapat positif, negatif, atau nol. Maka kita harus memproleh lebih banyak waktu yang terbatas diperlukan pengendalian waktu dalam sutua proyek supaya proyek tersebut berjalan dengan efektif dan efesien.










DAFTAR PUSTAKA

Aulady, Mohamad Ferdaus Noor and Cesaltino Orleans, ‘Perbandingan Durasi Waktu Proyek Konstruksi AntaraMetode CriticalPathMethod (CPM) dengan Metode Critical Chain Project Management (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut)’, Jurnal IPTEK, vol. 20, no. 1, 2016, p. 13 [https://doi.org/10.31284/j.iptek.2016.v20i1.29 ].
Iman Soeharto(2001). Manajemen Proyek, Jakarta: Erlangga
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=2ahUKEwiG1o3x2K3mAhWf4HMBHUq_ArUQFjAAegQIBBAC&url=http%3A%2F%2Fjournal.lppmunindra.ac.id%2Findex.php%2FFaktor_Exacta%2Farticle%2Fdownload%2F233%2F219&usg=AOvVaw3NwF0ztR99OwhmvEO-_wYa, diakses pada tanggal 4 november 2019 pukul 17.42
jurnal Teknik Industri[jurnal],- vol. 6, no. 3, 2013, pp. 210–7.
           



[1] Mohamad Ferdaus Noor Aulady and Cesaltino Orleans, ‘Perbandingan Durasi Waktu Proyek Konstruksi AntaraMetode CriticalPathMethod (CPM) dengan Metode Critical Chain Project Management (Studi Kasus: Proyek Pembangunan Apartamen Menara Rungkut)’, Jurnal IPTEK, vol. 20, no. 1 (2016), p. 13.
[2] Iman Soeharto, Manajemen Proyek, (Jakarta: Erlangga, 2001) hlm 263.
[3] Ibid. hlm.264
[4] Op.Cit., Iman Soeharto, hlm.269
[5] Ibid.hlm.270
[6] Elfitrria Wiratmani,Penerapan Metode Jalur Kritis Dalam Penyusunan, (Jurnal  Tekni Industry) Hlm.114

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANALISA PENGARUH KOMPETENSI MANAJER PROYEK TERHADAP KETEPATAN BIAYA, MUTU DAN WAKTU

JUDUL : Mahasiswa KKN-DR PLUS UIN SUSKA RIAU melakukan penyemprotan disenfektan di semua masjid nagari parit malintang

Organisasi Kurikulum